Jangan jadikan “Budaya”sebagai agama (2)

Posted: Oktober 23, 2015 in Amalan, Tauhid
Tag:,

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Al-Hamdulillah Hamdan Katsiran Thayyiban Mubarakan Fiih, Mubaarakan ‘Alaih Kamaa Yuhibbu Robbunaa wa Yardhaa

(Segala puji bagi Allah dengan pujian yang banyak, baik, dan diberkahi di dalamnya sebagaimana yang dicintai dan diridhai oleh Tuhan kami).

Allhamdulillah,dengan izin Allah Azza Wa Jalla…Kita hari ini bisa melaksanakan ibadah sunnah shaum/puasa,yaitu Puasa Tasu’a di hari ke 9 Muharram dan insha Allah besok kita melaksanakan Shaum/puasa Aysura di 10 Muharram..

A). Ada pun perintah kita berpuasa 2 hari tadi yaitu:

Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam mendorong kita untuk banyak melakukan puasa pada bulan tersebut sebagaimana sabdanya,

أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ وَأَفْضَلُ الصَّلاَةِ بَعْدَ الْفَرِيضَةِ صَلاَةُ اللَّيْلِ

Puasa yang paling utama setelah (puasa) Ramadhan adalah puasa pada bulan Allah – Muharram. Sementara shalat yang paling utama setelah shalat wajib adalah shalat malam.”(1)

Abu Qotadah Al Anshoriy berkata,

وَسُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ عَرَفَةَ فَقَالَ « يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ وَالْبَاقِيَةَ ». قَالَ وَسُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ عَاشُورَاءَ فَقَالَ « يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ

“Nabi shallallahu ’alaihi wa sallamditanya mengenai keutamaan puasa Arafah? Beliau menjawab, ”Puasa Arafah akan menghapus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang.” Beliau juga ditanya mengenai keistimewaan puasa ’Asyura? Beliau menjawab, ”Puasa ’Asyura akan menghapus dosa setahun yang lalu.”(2)

B). Selain dari 2 amalan diatas. Ada beberapa amalan yang “biasa”nya dijadikan kebiasaan oleh sebahagian umat Muslim, yaitu”Hari Raya Anak Yatim”. Dimana dalam amalan tersebut biasa kita akan memberikan santunan kepada anak2 yatim,atau semisal mengadakan khitanan masal,dll.

Adakah dalilnya??.

Hadis dalam kitab tanbihul ghafilin:

من مسح يده على رأس يتيم يوم عاشوراء رفع الله تعالى بكل شعرة درجة

Siapa yang mengusapkan tangannya pada kepala anak yatim, di hari Asyuro’ (tanggal 10 Muharram), maka Allah akan mengangkat derajatnya, dengan setiap helai rambut yang diusap satu derajat.

Hadish diatas menjadi penggerak semangat kita untuk melakukan amalan tersebut. Sehingga hadish tersebut sangat banyak di jalankan oleh masyarakat kebanyakan. Bahkan sampai menjadikan hari Asyura ini sebagai hari istimewa untuk anak yatim.

Namun sayangnya, ternyata hadis di atas statusnya adalah hadis palsu. Dalam jalur sanad hadis ini terdapat seorang perawi yang bernama: Habib bin Abi Habib, Abu Muhammad. Para ulama hadis menyatakan bahwa perawi ini matruk (ditinggalkan). Untuk lebih jelasnya, berikut komentar para ulama kibar dalam hadis tentang Habib bin Abi Habib:
a. Imam Ahmad: Habib bin Abi Habib pernah berdusta
b. Ibnu Ady mengatakan: Habib pernah memalsukan hadis (al-Maudhu’at, 2/203)
c. Adz Dzahabi mengatakan: “Tertuduh berdusta.” (Talkhis Kitab al-Maudhu’at, 207).
Karena itu, para ulama menyimpulkan bahwa hadis ini adalah hadis palsu. Abu Hatim mengatakan: “Ini adalah hadis batil, tidak ada asalnya.” (al-Maudhu’at, 2/203)

Tetapi yang perlu kita cermati adalah bukanya kita dilarang menyantuni anak yatim. Tapi menyantuni dengan hari khusus inilah yang dilarang dalam syariat. Sebab tidaklah diterima sebuah amalan tanpa dilandasi 2 syarat:

1. Ikhlas
2. Mengikuti tuntunan Rasulullah

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam setiap memulai khutbah biasanya beliau mengucapkan,

أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ وَخَيْرُ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ وَشَرُّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

“Amma ba’du. Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah kitabullah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sejelek-jelek perkara adalah (perkara agama) yang diada-adakan, setiap (perkara agama) yang diada-adakan itu adalah bid’ah, setiap bid’ah adalah kesesatan (HR. Muslim no. 867)

C. Masih di bulan dan hari yang sama…Golongan yg mengaku Islam,tapi seyogaya bukanlah Islam,dan hanya mengatas namakan Islam namun dusta yaitu SYIAH…

Mereka menjadikan hari Asyura 10 Muharram sebagai hari berkabung,bersedih,menangis,meratap hingga menyakiti anggota badan hingga berlumuran darah. Mereka mengaggap peristiwa meninggalnya Husein bin Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu harus diperingati.

Niyahah termasuk larangan bahkan dosa besar karena diancam dengan hukuman (siksaan) di akhirat kelak. Sebagaimana diriwayatkan dari Abu Malik Al Asy’ariradhiyallahu ’anhu bahwa Rasulullahshallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,

« أَرْبَعٌ فِى أُمَّتِى مِنْ أَمْرِ الْجَاهِلِيَّةِ لاَ يَتْرُكُونَهُنَّ الْفَخْرُ فِى الأَحْسَابِ وَالطَّعْنُ فِى الأَنْسَابِ وَالاِسْتِسْقَاءُ بِالنُّجُومِ وَالنِّيَاحَةُ ». وَقَالَ النَّائِحَةُ إِذَا لَمْ تَتُبْ قَبْلَ مَوْتِهَا تُقَامُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَعَلَيْهَا سِرْبَالٌ مِنْ قَطِرَانٍ وَدِرْعٌ مِنْ جَرَبٍ

Empat hal yang terdapat pada umatku yang termasuk perbuatan jahiliyah yang susah untuk ditinggalkan: (1) membangga-banggakan kebesaran leluhur, (2) mencela keturunan, (3) mengaitkan turunnya hujan kepada bintang tertentu, dan (4) meratapi mayit (niyahah)”. Lalu beliau bersabda, “Orang yang melakukan niyahah bila mati sebelum ia bertaubat, maka ia akan dibangkitkan pada hari kiamat dan ia dikenakan pakaian yang berlumuran dengan cairan tembaga, serta mantel yang bercampur dengan penyakit gatal” (HR. Muslim no. 934).

Dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu ia berkata,Rasulullah shallallahu ‘alihi wa salaam bersabda:
” Tidak termasuk golongan kami siapa saja yang menampar pipi (wajah),merobek saku, dan melakukan amalan jahiliyah” (HR. Bukhari no 1.294 dan Muslim no 103)

Padahal Islam tidak pernah mengajarkan bulan Muharram diisi dengan perbuatan nista seperti agama Syiah dan telah menjadi budaya bagi mereka. Tetapi Rasulullah mengajarkan kita umatnya untuk berpuasa sunnah pada hari Asyura..

Oleh karena itu harus kita katakan SYIAH bukanlah ISLAM. Sebab Syiah telah menyimpang dari ajaran ISLAM,maka:

Jadikan agama menjadi budaya,bukan budaya yang dijadikan agama

Wallahu a’lam bishawab
Jazakumullah khoir katsiran
Jakarta, 22 Oktober 2015 / 09 Muharram 1437 H

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Ref:
(1). HR. Muslim no. 1163, dari Abu Hurairah.
(2). HR. Muslim no. 1162

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s