Baca setengah, ya Hasil setengah…!!!!

Posted: Desember 26, 2014 in Tauhid
Tag:

Assalamu’alaikum wr.wb

Allahumma shalli’alla Muhammad, Wa’alla aali Muhammad

Jumat yang penuh berkah ini, lagi-lagi saya mendapatkan ilmu yang berarti terkait dengan trending topik belakangan ini (hukum ucapan natal bagi umat muslim)…Seperti biasa, sahabat karib saya yang bernama Twitter selalu menemani untuk mencari secercah berita untuk meng-update ke-ilmuan saya,apa pun itu…

Sedang asyik baca ini dan itu…terselip, ada berita terikat dengan trending topik lagi…mari kita coba sama-sama belajar…silahkan di buka link nya:

http://www.tempo.co/read/kolom/2014/12/26/1862/Ucapan-Natal-dan-Islam-Kita

Udah baca??….

Belum??…hayolah dibaca dulu…..hehehehehe

Apa kesimpulan ikhwa??…

Sebenernya ga harus kaku seperti edisi sebelumnya ya??…mesti diam,dan ga ucapin apa-apa???

Wah…Kok beda banget dan bertolak belakang dengan edisi sebelumnya?…yang penulis tulis larangan…sekarang justru sekarang ada landasanya untuk mengucapin, dan itu boleh-boleh aja….Jelas lagi ada suratnya Al Qur’an nya…Wah kacau ni yang nulis edisi kemarin…GEBLEK… Mungkin itulah reaksi ikhwa??….

Kalo begitu gw salah donk..ga ngucapin selamat natal sama temen-temen dikantor…apalagi bos gw nasrani lagi….kan ga enak jadi bahan gunjingan orang kantor…”Kok lo ga ucapin selamat natal sama bos”..ujar sebagian orang yang baca artikel ini mungkin….

Sepintas pun sempat berkata….Wah ini artikel bener juga ya….berarti kemaren saya donk yang menyesatkan pembaca blog ini??….Wah, dosa dah….(tepok jidat.com)….

Tapi ikhwa…..

Sadari…pahami…dan baca dengan benar-benar…Apakah iya, hukum Allah itu salah??…atau OTAK yang nulis aja yang SOMPLAK…..entah saya atau penulis artikel di TEMPO itu???

Mari kita masuk dapur bedah ilmu…hehehehehe, biar enak…dan biar clear dalam pemikiran,agar tidak menyesatkan:

أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ وَخَيْرُ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ وَشَرُّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

Amma ba’du. Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah kitabullah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sejelek-jelek perkara adalah yang diada-adakan (bid’ah) dan setiap bid’ah adalah sesat.” (HR. Muslim no. 867)

Saya akan mengutip statement yang menarik kita pelajari, gpp ya??walau pun udah baca??…biar makin jelas…hehehe:

Karena itu, pengharaman ucapan selamat Natal itu tak sesuai dengan konteks Islam Indonesia dan Islam masa kini. Alih-alih, konteks Islam Indonesia dan Islam masa kini justru lebih sesuai dengan dalil penghalalannya yang didasarkan pada QS. Al-Mumtahanah: 8 dan QS. An-Nisaa’: 86 yang memerintahkan kita agar berlaku adil kepada umat beragama yang berdamai dengan kita, serta membalas penghormatan umat agama lain kepada kita dengan penghormatan yang sama, atau bahkan lebih. Bukankah umat Kristiani berdamai dan berbuat baik kepada kita, serta mengucapkan selamat Idul Fitri setiap kita berlebaran? Apalagi, sebagaimana dikemukakan ahli tafsir Prof Quraish Shihab, dengan merujuk pada QS. Maryam: 33, Allah pun mengucapkan selamat atas kelahiran Nabi Isa. Adapun perbedaan landasan kita dan Kristen dalam memahami posisi Isa, itu soal iman masing-masing

Landasan sudah tepat…Yaitu Al Qur’an NurKarim dalam menjawab itu…

TAPI….perhatikan Ikhwa fillah:

1). Ini yang dijadikan sandar bahwa kita muslim, wajib adil dan juga membalas penghormat dan dengan penghalalan ucapan natal:

laa yanhaakumu allaahu ‘ani alladziina lam yuqaatiluukum fii alddiini walam yukhrijuukum min diyaarikum an tabarruuhum watuqsithuu ilayhim inna allaaha yuhibbu almuqsithiina
[60:8] Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil

Ayat nya ga ada yang salah…TAPI,apa kah dalam konteks yang tetap ini dijadikan landasan atau sandaran bahwasanya hala nya ucapan natal itu??>…MARI, kita belajar lebih detail…Maka silahkan buka Tafsir Jalalain terkait ayat tersebut:

“(Allah tiada melarang kalian terhadap orang-orang yang tidak memerangi kalian) dari kalangan orang-orang kafir(karena agama dan tidak mengusir kalian dari negeri kalian untuk berbuat baik kepada mereka) lafal an tabarruuhum menjadi badal isytimal dari lafal alladziina (dan berlaku adil) yaitu melakukan peradilan (terhadap mereka) dengan secara adil. Ayat ini diturunkan sebelum ada perintah untuk berjihad melawan mereka.(Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang adil) yang berlaku adil”

Dan tahukah kita Asbabun Nuzul ayat ini / Tafsir DEPAG:

“Dalam ayat ini, Allah SWT menerangkan bahwa Dia tidak melarang orang-orang yang beriman berbuat baik, mengadakan hubungan persaudaraan, tolong-menolong dan hantu-membantu dengan orang-orang kafir selama mereka tidak mempunyai niat menghancurkan Islam dan kaum muslimin, tidak mengusir dari negeri-negeri mereka dan tidak pula berteman akrab dengan orang-orang yang hendak mengusir itu. Ayat ini merupakan ayat yang memberikan ketentuan umum dan prinsip agama Islam dalam menjalin hubungan dengan orang-orang yang bukan Islam dalam satu negara. Kaum muslimin diwajibkan bersikap baik dan bergaul dengan orang-orang kafir, selama orang-orang kafir itu bersikap dan ingin bergaul baik terutama dengan kaum muslimin.

Seandainya dalam sejarah Islam terutama pada masa Rasulullah dan masa para sahabat, terdapat tindakan kekerasan yang dilakukan oleh kaum muslimin kepada orang-orang kafir, maka tindakan itu semata-mata dilakukan untuk membela diri dari kelaliman dan siksaan-siksaan orang-orang kafir.

Di Mekah, Rasulullah dan para sahabat disiksa dan dianiaya oleh orang-orang kafir Quraisy, sampai mereka terpaksa hijrah ke Madinah. Sesampai mereka di Madinah, mereka pun dimusuhi oleh orang-orang Yahudi yang bersekutu dengan orang-orang kafir Quraisy, sekalipun telah dibuat perjanjian damai antara mereka dengan Rasulullah, sehingga terpaksa diambil tindakan kekerasan. Demikian pula di kala kaum muslimin berhadapan dengan kerajaan Persia dan Romawi, orang-orang kafir di sana telah memancing permusuhan sehingga terjadi peperangan.

Jadi ada satu prinsip yang perlu diingat dalam hubungan orang Islam dengan orang-orang kafir, yaitu : “Boleh mengadakan hubungan baik, selama pihak yang bukan Islam melakukan yang demikian pula”. Hal ini hanya dapat dibuktikan dalam sikap dan perbuatan kedua belah pihak. Di Indonesia prinsip ini dapat dilakukan, selama tidak ada pihak agama lain bermaksud memurtadkan orang Islam atau menghancurkan Islam dan kaum muslimin.”

Ingat ikhwa, apakah cukup dengan kalimat yang mirip saja lantas kita bisa merujuk kepada halalnya ucapan??..Ingat…ini terkait Fathul Mekah…bukan ucapan halanya natal

2). Ini yang dijadikan sandar bahwa kita muslim, wajib adil dan juga membalas penghormat dan dengan penghalalan ucapan natal:

wa-idzaa huyyiitum bitahiyyatin fahayyuu bi-ahsana minhaa aw rudduuhaa inna allaaha kaana ‘alaakulli syay-in hasiibaan
[4:86] Apabila kamu diberi penghormatan[1] dengan sesuatu penghormatan[2], maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik[3] dari padanya, atau balaslah penghormatan itu (dengan yang serupa)327[4]. Sesungguhnya Allah memperhitungankan segala sesuatu
*327 =penghormatan dalam Islam adalah mengucapkan Assalamu’alaikum wr.wb

Lagi-lagi…ucapan itu dan balasan itu bukanlah natal Ikhwa….lihatlah Tafsiran dari ayat tersebut:

[1]”Tahiyat atau penghormatan adalah lafaz yang diucapkan oleh salah seorang ketika bertemu dengan yang lain sebagai penghormatan dan doa, termasuk pula perkara lain yang terkait dengan lafaz itu berupa muka yang berseri-seri dsb. Tahiyat yang paling tinggi adalah tahiyat yang disebutkan syara’, berupa ucapan salam yang dilakukan ketika memulai dan menjawab. Ayat di atas memerintahkan kita ketika diucapkan salam penghormatan untuk menjawab dengan yang lebih baik atau sepadan. Mafhum ayat di atas adalah larangan tidak menjawab sama sekali atau menjawab yang kurang (tidak sepadan). Termasuk menjawab salam penghormatan adalah menjawab segala ucapan penghormatan yang biasa diucapkan manusia, selama ucapan tersebut tidak terlarang secara syara’ dan tidak melupakan atau mengganti ucapan salam”.

Kemudian,lanjutan dari tafsirnya yaitu:

[2]” Misalnya diucapkan kepadamu “As Salaamu ‘alaikum”.

[3] “Seperti “Wa ‘alaikumus salaam wa rahmatullah wa barakaatuh”

[4] “Yakni sampai “Wa ‘alaikumus salam” saja, meskipun yang utama adalah menjawab lebih. Namun tidak dijawab salam dari orang kafir, ahli bid’ah, orang fasik (hal itu, karena yang demikian bertentangan dengan maslahat yang lebih besar), demikian pula tidak jawab orang yang mengucapkan salam kepada orang yang buang air, kepada orang yang berada di kamar mandi dan kepada orang yang sedang makan, bahkan makruh menjawabnya selain yang terakhir, yakni jika salamnya ditujukan kepada orang yang sedang makan, maka tidak makruh menjawabnya. Adapun salam dari orang kafir, jawabannya adalah “Wa ‘alaikum” saja.

Ikhwa….ini tambah jelas lagi kan….ucapan itu berlaku dengan Lafadz Assalmu’alaikum, bukan selamat Natal….Dan tidak ada kewajiban umat Muslim untuk mengucapkan salam awal kepada nasrani dan yahudi

3). Ini juga sebagai pamungkas,bahwasanya Allah aja memberikan kesejateraan kepada Nabi Isa AS..Sehingga wajar kalo kita saja manusia harus mengucapkan atau memperingati lahirnya Nabi Isa..

waalssalaamu ‘alayya yawma wulidtu wayawma amuutu wayawma ub’atsu hayyaan
[19:33] Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku, pada hari aku dilahirkan, pada hari aku meninggal dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali”

Lagi-lagi….ayatnya ga salah,tapi pemahanya yang keliru….coba jangan hanya di ayat ini saja….mari kita telusuri ke atas ayat sebelumnya…

Isa Al Masih sejak dalam buayan mengatakan dirinya hamba Allah sampai beliau wafat.

“Maka Maryam menunjuk kepada anaknya. mereka berkata: “Bagaimana Kami akan berbicara dengan anak kecil yang masih di dalam buayan?”Berkata Isa: “Sesungguhnya aku ini hamba Allah, Dia memberiku Al kitab (Injil) dan Dia menjadikan aku seorang Nabi, dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkati di mana saja aku berada, dan Dia memerintahkan kepadaku (mendirikan) shalat dan (menunaikan) zakat selama aku hidup; dan berbakti kepada ibuku, dan Dia tidak menjadikan aku seorang yang sombong lagi celaka. Dan Kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaKu, pada hari aku dilahirkan, pada hari aku meninggal dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali.” Itulah Isa putera Maryam, yang mengatakan Perkataan yang benar, yang mereka berbantah-bantahan tentang kebenarannya. Tidak layak bagi Allah mempunyai anak, Maha suci Dia. apabila Dia telah menetapkan sesuatu, Maka Dia hanya berkata kepadanya: “Jadilah”, Maka jadilah ia. Sesungguhnya Allah adalah Tuhanku dan Tuhanmu, Maka sembahIah Dia oleh kamu sekalian. ini adalah jalan yang lurus.”(QS. Maryam, 19: 30-36)

Apa ini masih kurang jelas ikhwa??….Nabi Isa AS saja mengatakan dalam Quran,perintah menyembah Allah…memerintahkan umatnya sholat dan zakat…..Lantas kenapa kita harus mengucapkan selamat atas lahirnya Isa dalam versi Nasrani???..

Terus masihkah ikhwa binggu terhadap apa yang TEMPO muat??…saya ingin katakan kepada ikhwa fillah yang membaca artikel ini…

ITU ARTIKEL SESAT…PELAN TAPI MENYESATKAN

Sebab dengan landasan yang sama, tapi dengan tafsiran berbeda,maka menghasilkan arti yang berbeda….Maka hati-hatilah memahami sebuah landasan dalam berpikir…

Sebagai kalimat penutup, saya pun bermunajab kepada Allah Azza Wa Jalla…

Jika saya salah dalam mempelajari agama Mu Ya Rab

Tunjukan jalan yang lurus dan berikan kebenaran itu Nyata

Jangan Kau keraskan hati kami dalam menuntut ilmu Mu Ya Rab

Ku belajar hanya semata-mata mengharap Ridho Mu…

Wawalahu’alam Bishawab

Wassalamu’alaikum wr.wb

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s