Kekeliruan seputar tarawih….

Posted: Juni 30, 2014 in Amalan, Ramadhan
Tag:

Berikut beberapa kekeliruan saat pelaksanaan shalat tarawih berjama’ah dan tidak ada dasarnya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

1. Dzikir berjama’ah di antara sela-sela shalat tarawih. Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz berkata, “Tidak diperbolehkan para jama’ah membaca dzikir secara berjama’ah. Akan tetapi yang tepat adalah setiap orang membaca dzikir sendiri-sendiri tanpa dikomandai oleh yang lain. Karena dzikir secara berjama’ah (bersama-sama) adalah sesuatu yang tidak ada tuntunannya dalam syari’at Islam yang suci ini”. (Majmu’ Fatawa Ibnu Baz, 11:190)

2. Melafazhkan niat selepas shalat tarawih. Imam Nawawi berkata, “Tidaklah sah puasa seseorang kecuali dengan niat. Letak niat adalah dalam hati, tidak disyaratkan untuk diucapkan dan pendapat ini tidak terdapat perselisihan di antara para ulama.” (Rowdhotuth Tholibin, 1:268).

3. Memanggil jama’ah dengan ‘ash sholaatul jaami’ah’. Tidak ada tuntunan untuk memanggil jama’ah dengan ucapan ‘ash sholaatul jaami’ah’. Ini termasuk perkara yang diada-adakan (Lihat Al Mawsu’ah Al Fiqhiyyah, 27:140).

4. Mengkhususkan dzikir atau do’a tertentu antara sela-sela duduk shalat tarawih, apalagi dibaca secara berjama’ah. Karena ini jelas tidak ada tuntunannya (Lihat Al Mawsu’ah Al Fiqhiyyah, 27:144).

Sumber : Muslim or.id

Komentar
  1. a girl with the veil mengatakan:

    kalau dzikir berjamaah setelah shalat isya’ bagaimana? tetep salah ya? soalnya udh jadi kebiasaan masjid di dekat rumah, trus biasanya juga Memanggil jama’ah dengan ‘ash sholaatul jaami’ah’.

    • salaam250 mengatakan:

      Assallammualikum wr.wb

      Semoga ukhti gadis selalu diberkahi dan dirahmati oleh Allah Azza Wa Jalla,

      Mengenai dzikir berjamaah setelah sholat fardu,adalah salah satu diantara sekian banyak amaliyah yang dilakukan oleh kebanyak masyarakat pada umumnya. Dan mari kita belajar dari beberapa mahzab yang sering kita kenal:

      Menurut Para Ulama Madzhab Hanafiyah
      ( قَوْلُهُ لَا بَأْسَ لِلْإِمَامِ ) أَيْ وَالْمُقْتَدِينَ ( قَوْلُهُ عَقِبَ الصَّلَاةِ ) أَيْ صَلَاةِ الْغَدَاةِ قَالَ فِي الْقُنْيَةِ إمَامٌ يَعْتَادُ كُلَّ غَدَاةٍ مَعَ جَمَاعَتِهِ قِرَاءَةَ آيَةِ الْكُرْسِيِّ وَآخِرَ الْبَقَرَةِ – ، وَ { شَهِدَ اللهُ } – وَنَحْوَهَا جَهْرًا لَا بَأْسَ بِهِ وَالْإِخْفَاءُ أَفْضَلُ ا هـ . وَتَقَدَّمَ فِي الصَّلَاةِ أَنَّ قِرَاءَةَ آيَةِ الْكُرْسِيِّ وَالْمُعَوِّذَاتِ وَالتَّسْبِيحَاتِ مُسْتَحَبَّةٌ وَأَنَّهُ يُكْرَهُ تَأْخِيرُ السُّنَّةِ إلَّا بِقَدْرِ اللَّهُمَّ أَنْتَ السَّلَامُ إلَخْ ( قَوْلُهُ قَالَ أُسْتَاذُنَا ) هُوَ الْبَدِيعُ شَيْخُ صَاحِبِ الْمُجْتَبَى وَاخْتَارَ الْإِمَامُ جَلَالُ الدِّينِ إنْ كَانَتْ الصَّلَاةُ بَعْدَهَا سُنَّةٌ يُكْرَهُ وَإِلَّا فَلَا
      (Tidak mengapa bagi imam) dan makmum (sesudah shalat) yakni shalat subuh, Beliau berkata dalam Al Qunyah : Imam yang mempunyai kebiasaan setiap pagi beserta jama’ahnya membaca ayat kursi dan akhir al baqoroh dan Syahidallohu dan semacamnya, tidak mengapa baginya membacanya dengan keras, sedang membaca dengan pelan lebih utama. Telah diterangkan dalam bab shalat bahwasannya membaca ayat kursi, al ikhlash, dan mu’awwidzatain juga bacaan-bacaan tasbih adalah sunnah, dan bahwasannya dimakruhkan mengakhirkan shalat sunnah kecuali hanya dengan sekedar membaca “Allohumma antas Salaam …dst (guru kami berkata) -dia adalah Al Badi’ yang merupakan guru dari pengarang kitab Al Mujtabaa- beliau berkata : Al Imaam Jalaaluddin memilih (pendapat yang mengatakan) “Jika setelah sholat fardhu ada shalat sunnah (ba’diyah) maka hukumnya makruh, jika tidak ada shalat sunnah setelah shalat fardhu maka tidak makruh”. (Roddul Mukhtar, vol 27. hal 96)

      Menurut Madzhab Malikiyah
      ( وَ ) جَازَ ( رَفْعُ صَوْتِ مُرَابِطٍ ) وَحَارِسِ بَحْرٍ ( بِالتَّكْبِيرِ ) فِي حَرَسِهِمْ لَيْلًا وَنَهَارًا ؛ لِأَنَّهُ شِعَارُهُمْ ، وَمِثْلُهُ رَفْعُهُ بِتَكْبِيرِ الْعِيدِ وَبِالتَّلْبِيَةِ ، وَكَذَا التَّهْلِيلُ وَالتَّسْبِيحُ الْوَاقِعُ بَعْدَ الصَّلَوَاتِ الْخَمْسِ أَيْ مِنْ الْجَمَاعَةِ لَا الْمُنْفَرِدِ ، وَالسِّرُّ فِي غَيْرِ ذَلِكَ أَفْضَلُ وَوَجَبَ إنْ لَزِمَ مِنْ الْجَهْرِ التَّشْوِيشُ عَلَى الْمُصَلِّينَ أَوْ الذَّاكِرِينَ ( وَكُرِهَ التَّطْرِيبُ ) أَيْ التَّغَنِّي بِالتَّكْبِيرِ .
      (Dan) boleh (mengeraskan suara bagi Murobith/pemimpin pasukan) dan penjaga pantai (membaca takbir) dalam wilayah penjagaan mereka baik malam atau siang hari, karena hal tersebut menjadi tanda bagi mereka. Dan Begitu juga dengan takbir hari raya, talbiyah, tahlil, tasbih yang terjadi setelah sholat lima waktu dalam berjama’ah bukan ketika sholat sendiri. Sedang membaca pelan pada selain yang tersebut lebih baik, bahkan wajib (memelankan suara) jika kerasnya suara dapat mengakibatkan gangguan bagi orang yang sholat atau orang yang berdzikir. (dan dimakruhkan) melagukan bacaan takbir. (Hasyiyatud Dasuqi Alas Syarhil Kabir, vol 7. hal 179)

      Menurut Madzhab Syafi’iyah
      ( قال الشَّافِعِيُّ ) وَهَذَا مِنَ الْمُبَاحِ لِلْاِمَامِ وَغَيْرِ الْمَأْمُومِ قَالَ وَأَيُّ إمَامٍ ذَكَرَ اللهَ بِمَا وَصَفْت جَهْرًا أو سِرًّا أو بِغَيْرِهِ فَحَسَنٌ وَأَخْتَارُ لِلْاِمَامِ وَالْمَأْمُومِ أَنْ يَذْكُرَا اللهَ بَعْدَ الِانْصِرَافِ مِنَ الصَّلَاةِ وَيُخْفِيَانِ الذِّكْرَ إلَّا أَنْ يَكُونَ إمَامًا يَجِبُ أَنْ يُتَعَلَّمَ مِنْهُ فَيَجْهَرَ حَتَّى يَرَى أَنَّهُ قَدْ تُعُلِّمَ مِنْهُ ثُمَّ يُسِرُّ
      (Imam As Syafi’iy berkata) Dan ini adalah termasuk perkara mubah bagi imam dan selain makmum. Dan siapapun imam yang berdzikir menyebut Allah dengan dzikir yang telah aku sifati atau dengan dzikir yang lain, baik dengan keras maupun pelan, maka hal itu baik. Dan aku memilih untuk imam dan makmum hendaknya mereka berdzikir kepada Allah setelah selesai dari sholat seraya memelankan dzikir-nya, kecuali bagi imam yang berkewajiban dijadikan belajar (oleh makmum) maka imam mengeraskan suaranya sehingga sang imam berpendapat bahwa makmum sungguh telah belajar darinya, baru kemudian imam memelankan (dzikirnya). (Al Umm, vol 1. hal 127)
      (بَابُ الْأَذْكَارِ بَعْدَ الصَّلاَةِ) أَجْمَعَ الْعُلَمَاءُ عَلَى اِسْتِحْبَابِ الذِّكْرِ بَعْدَ الصَّلاَةِ ، وَجَاءَتْ فِيْهِ أَحَادِيْثُ كَثِيْرَةٌ صَحِيْحَةٌ فِي أَنْوَاعٍ مِنْهُ مُتَعَدِّدَةٍ ، فَنَذْكُرُ طَرَفًا مِنْ أَهَمِّهَا.
      (Bab dzikir ba’da shalat) Para ulama telah bersepakat disunnahkannya dzikir ba’da shalat, dan telah ada hadits-hadits yang cukup banyak dan sohih (yang menjelaskan) macam-mazam dzikir. (Al Adzkar, vol 1. hal 70)

      Dari beberapa pemaparan diatas,maka terdapat kata yang saling menguatkan yaitu “berdzikir dengan nada pelan dan tidaklah dikomandoi oleh imam” jauh lebih baik daripada dikeraskan dan berjamaah..Adanya dikeraskan hanyalah sebagai media pembelajaran saja bagi makmum yang tidak memahami dzikir tersebut,tetapi tidaklah menjadi suatu kebiasaan.Dan memanggil jamaah dengan dengan nada keras hanyalah dengan Adzan.

      Semoga bermanfaat untuk ukhti gadis

      Wassallammualikum wr.wb

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s