HADISH-HADISH YANG LEMAH MENGENAI BULAN RAMADHAN

Posted: Februari 12, 2014 in Ramadhan
Tag:

HADISH-HADISH YANG LEMAH MENGENAI BULAN RAMADHAN

  1. “permulaan Ramadhan itu rahmat, pertengahannya magfiroh dan penghabisannya adalah pembebasan dari neraka.” (HR. Addailamy dan Ibnu ‘Asakir). Ungkapan yang sangat masyhur ini selalu didengungkan oleh para dai tapi sedikitpun mereka tidak pernah menyertakan kualitas haditsnya. Menurut Imam As-Suyuti dan al-Hafizh Ibnu Hajar, hadis ini amat lemah. Sedang menurut Syeikh Albani, hadis ini mungkar. Otak masalahnya adalah karena terdapat dua orang perawi yaitu Sallam bin Sawwar dan Maslamah Bin Al-Salt. Perawi pertama adalah seorang mungkarul hadis menurut Ibnu ‘Adi. Adapun Imam Khotib Al-Bagdadi menegaskan tidak boleh berhujjah dengan hadisnya.  Adapun Maslamah juga setali tiga uang dengan Sallam bin Sawwar.

Berpedoman dengan hadits mungkar di atas, otomatis menyetujui klasifikasi Ramadhan menjadi 3 bagian, padahal Ramadhan tidak mengenal pengklasifikasian seperti itu (rahmat, magfiroh, dan pembebasan dari neraka). Ramadhan adalah bulan yang menghimpun tiga keutamaan itu dari awal sampai akhirnya.

2      ”Tidurnya orang berpuasa itu ibadah, diamnya adalah tasbih, amalnya berlipat ganda, doanya makbul, dan dosanya diampuni.” (HR. Al-Baihaqi) Kalimat  pertama kerap dijadikan dalih bagi para pemalas yang menghabiskan waktunya dengan tidur-tiduran. Adapun kalimat berikutnya tak pernah disebut-sebut.  Oleh Imam Al-Baihaqi sendiri, beliau menilai hadis ini dhoif karena terdapat Ma’ruf bin Hisan dan Sulaiman bin Amr Al Nakha’I di dalam rantai sanadnya. Imam Ahmad, Al-Iraqi, dan Al-Minawi sepakat menyebut Sulaiman sebagai pendusta dan pemalsu hadis. Ternyata hadis yang selama ini sering kita jadikan dalih adalah hadis palsu.

3      من فطر صائما على طعام وشراب من حلال صلت عليه الملائكة في ساعات شهر رمضان وصلى عليه جبرائيل ليلة القدر

“Barangsiapa memberi hidangan berbuka puasa dengan makanan dan minuman yang halal, para malaikat bershalawat kepadanya selama bulan Ramadhan dan Jibril bershalawat kepadanya di malam lailatul qadar.”

Hadist ini diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dalam Al Majruhin (1/300), Al Baihaqi di Syu’abul Iman (3/1441), Ibnu ‘Adi dalam Al Kamil Adh Dhuafa (3/318), Al Mundziri dalam At Targhib Wat Tarhib (1/152). Hadits ini didhaifkan oleh Ibnul Jauzi di Al Maudhuat (2/555), As Sakhawi dalam Maqasidul Hasanah (495), Al Albani dalam Dhaif At Targhib (654).

Yang benar,orang yang memberikan hidangan berbuka puasa akan mendapatkan pahala puasa orang yang diberi hidangan tadi, berdasarkan hadits:

من فطر صائما كان له مثل أجره ، غير أنه لا ينقص من أجر الصائم شيئا

“Siapa saja yang memberikan hidangan berbuka puasa kepada orang lain yang berpuasa, ia akan mendapatkan pahala orang tersebut tanpa sedikitpun mengurangi pahalanya.” (HR. At Tirmidzi no 807, ia berkata: “Hasan shahih”

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s